Hari itu hujan turun pelan-pelan. Bukan hujan deras, tapi cukup untuk membuat jaket mereka basah kalau kelamaan berdiri di luar. Agha dan Fayyadh baru pulang dari kantor polisi, dengan wajah lebih pucat dari biasanya. Rakha belum juga ditemukan.
Mereka berdua naik ke dalam mobil, dan tak ada yang bicara cukup lama.
"Dia beneran nggak ada, ya yat..." suara Agha pelan. "Barangnya doang. HP-nya, dompetnya, semua masih di sana. Tapi Rakha nya…"
Fayyadh nutup mata, kepalanya bersandar di jendela. "Kita cuma anak SMA, Gha… bukan seharusnya kita begini, kita nggak tahu harus gimana lagi."
Agha nekan setir. Tangan kirinya gemetar. Tapi akhirnya dia cuma narik napas dalam dan memutar kontak mobil, lalu mutusin buat nyetir tanpa arah. Udara dalam mobil jadi sesak. Mereka akhirnya berhenti di pinggir taman kota. Tidur diam-diam di jok depan, seatbelt masih melingkar.
Di sisi lain, Fiona ketakutan. Semakin hari dia makin pendiam, makin gampang panik. Aura nemuin dia di lorong belakang perpustakaan, tempat yang biasa mereka jadikan tempat main saat bolos kelas. Tapi kali ini Fiona cuma duduk diem, kepala nunduk.
"Lo takut ya?"
Fiona ngangguk. "Kalau kita selanjutnya, Ra?"
Aura nggak langsung jawab. Dia duduk di samping Fiona, ngelepas jaketnya, lalu narik Fiona ke pelukan. Hening. Lama. Yang terdengar cuma suara angin dari jendela tua di lorong itu.
"Tenang aja… gue gak bakal biarin siapapun misahin kita."
Dan Fiona percaya.
Aneira duduk sendirian di tangga sekolah, nulis sesuatu di buku kecil. Aura nemuin dia tanpa sengaja waktu nyari Fiona yang menghilang sebentar. Aneira nggak langsung nyapa. Tangannya terus nulis, wajahnya tenang.
"Lo nulis apa?" tanya Aura pelan.
Aneira angkat buku itu sebentar, lalu nutup. "Surat. Just in case."
"Surat?"
"Wasiat. Gatau, gue ngerasa... bisa aja besok gue yang ilang."
Aura nggak bisa berkata-kata. Dia ambil surat itu dari tangan Aneira, baca cepat, dan diam. Isinya minta maaf ke semua orang. Ke Rafka. Ke Rakha. Ke semua yang pernah dia curigai. Dia juga nulis, kalau ada yang nemuin buku catatan investigasinya, tolong terusin.
"Lo kuat banget, Nei. Dan semoga kita semua kuat."
Aneira senyum kecil, matanya sayu. "Semoga, gue cuma nggak tahu harus takut ke siapa lagi."
Aura genggam tangannya. Kuat. Seolah mereka bisa saling nyelametin—padahal masing-masing udah kelelep.
Sore itu mereka semua akhirnya ngumpul di rumah Fayyadh. Bukan buat investigasi. Bukan buat strategi. Tapi cuma karena mereka semua nggak tahu harus ke mana lagi.
Aura duduk di lantai, kepala bersandar ke lutut, jaketnya masih basah. Fiona duduk di sampingnya sambil peluk bantal. Aneira diem aja di pojok sofa, mata melayang ke luar jendela. Agha nunduk di meja makan. Fayyadh mainin kunci mobil di tangannya. Semuanya terdiam.
"Kenapa harus kita?" tanya Fiona pelan. Suaranya retak.
"Gue nggak ngerti," kata Agha. "Tiap kita nyoba nyelamatin satu, yang lain ilang."
"Kayak kita cuman pion buat sesuatu yang lebih gede…" sahut Aneira.
Aura nyengir miris. "Atau kayak udah ditakdirin buat kalah."
Nggak ada yang jawab. Di luar hujan makin deras, ketukannya beradu di jendela seperti denting waktu yang terus jalan.
Lalu, entah siapa yang mulai, tangan mereka saling menggenggam. Aura ke Fiona. Fiona ke Aneira. Aneira ke Fayyadh. Fayyadh ke Agha. Nggak ada yang bicara. Tapi genggaman itu cukup.
Untuk malam ini, mereka masih punya satu sama lain.
Walau dalam benak masing-masing, semua bertanya hal yang sama:
Siapa lagi selanjutnya?
Tiba tiba "Lo pernah ngerasa... capek tapi bukan karena badan?"S uara Aneira tiba-tiba nyelip di tengah hening.
Fiona ngangkat kepala pelan dari bantal, matanya bengkak. "Capek karena hati?"
Aneira angguk. "Iya. Capek karena… kita tuh terus-terusan takut. Terus-terusan berusaha keliatan kuat. Padahal dalemnya udah remuk."
Aura masih duduk di lantai, bungkuk, ngelus-ngelus pergelangan tangannya sendiri—kebiasaan dia kalau lagi cemas. "Gue ngerasa kayak gitu tiap malem. Pas lampu kamar gue mati, dan suara-suara di kepala gue mulai ribut."
"Suara apa?" tanya Fayyadh pelan.
"Suara Rakha. Suara Rafka. Suara Naaila. Suara yang nanyain kenapa gue masih hidup sementara mereka nggak tahu gimana."
Agha nepuk meja tiba-tiba. Suaranya pecah. "Lo pikir lo doang yang ngerasa gitu?"
Semua kaget. Tapi dia terus ngomong.
"Setiap hari gue bangun dan mikir, 'harusnya gue yang ilang, bukan mereka'. Tapi lo tau apa yang paling nyakitin? Kita semua diem. Kita cuma bisa nunggu giliran."
Fayyadh bangkit, jalan pelan ke arah Agha, terus narik dia ke pelukan. Gak ada kata-kata. Agha sempet ngelawan, tapi akhirnya dia diem, mukanya masuk ke bahu Fayyadh.Bahunya goyang. Dia nangis.
Fiona udah nggak tahan, dia nutup wajah pake bantal dan sesenggukan. Aura ngelirik dia, lalu jalan pelan, duduk di belakang Fiona dan meluk dia dari belakang. "Ada gue, Fi… gue di sini," bisiknya.
Aneira cuma duduk kaku di sofa, tapi air matanya netes satu-satu. Diam. Pelan. Seolah dia capek bahkan buat nangis.
"Lo tau yang paling bikin gue hancur?" kata dia akhirnya. "Gue udah lupa rasanya bahagia."
Nggak ada yang jawab.
Satu-satunya suara yang terdengar cuma hujan yang makin deres, dan isakan pelan dari masing-masing sudut ruangan. Tapi anehnya… meski semuanya rusak, semuanya sedih, semuanya takut—mereka masih bareng. Masih bisa saling sentuh. Masih bisa saling denger.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan dimulai, mereka nggak mikirin siapa pelakunya.
Mereka cuma jadi lima anak yang lagi ngerasa kehilangan. Yang nggak pengen nyelamatin dunia. Yang cuma pengen semuanya baik-baik aja.
Malam itu, mereka beresin ruang tamu seadanya. Bantal-bantal dikumpulin. Selimut ditarik dari kamar. Kasur lipat digelar bareng.
Semua tidur dalam satu ruangan. Tapi nggak ada yang tidur beneran.
Fiona tiduran paling pojok, meringkuk sambil peluk guling, bahunya sesekali goyang—nahan isak yang udah kehabisan suara.
Di sebelahnya, Aura masih melek, matanya kosong. Dia ngeliatin langit-langit, kayak nyari jawaban yang nggak pernah ada.
Aneira duduk nyender ke dinding "Harusnya kita ber 8 disini" bisiknya pelan,
Agha gelar jaketnya jadi alas, tiduran dengan tangan nutup mata. Tapi dari nafasnya, ketauan banget dia bangun. Ketahan. Penuh emosi.
Fayyadh duduk di sisi Agha. Bahunya nempel dikit."Gue pernah ngerasa sekehilangan ini pas nenek gue meninggal... Tapi sekarang, ini beda, Gha. Ini tuh kayak... kehilangan yang masih jalan."
Agha nggak jawab.
Tapi dia ngelepas tangan dari mukanya. Matanya merah.
"Lo pikir gue gak mikir gitu?" suaranya pecah. "Gue tiap hari mikir… gimana kalo Rakha disiksa sekarang? Gimana kalo dia nyebut nama kita pas sekarat dan kita nggak denger?"
Suara itu bikin Fiona makin keras nangis. Aneira nutup mulut. Aura langsung duduk dan pundak Fayyadh yang langsung jadi tempat Aura menyandarkan kepalanya.
"Gue capek banget," ucap Aura sambil gemeter. "Kita semua cuma anak sekolah, Yat. Harusnya kita bahas UN, bukan... penculikan. Bukan mayat. Bukan darah."
Aneira akhirnya pelan-pelan bergeser duduk ke tengah. Terus baring di antara mereka semua.
"Kalau kita semua harus ilang juga, semoga bareng-bareng aja ya. Jangan satu-satu gini."
Nggak ada yang sanggup jawab.
Sampai akhirnya... satu tangan narik selimut. Satu lagi ngelus rambut. Satu lagi cuma megang jemari.
Dan malam itu, mereka rebahan berjejer.
Nggak ada yang berani tidur lebih dulu. Karena di tengah semua ketakutan dan duka… satu hal yang paling menakutkan adalah bangun besok dan sadar: satu dari mereka udah nggak ada lagi.